Apakah faktor penentu mengenai tingkat kedewasaan seseorang? Bagaimana perkembangan tingkat emosional dan kedewasaan pada remaja ?

Usia tidak menentukan tingkat kedewasaan seseorang.

saya sangat setuju dengan pernyataan di atas. menurut saya, tingkat kedewasaan seseorang (dalam berpikir, terutama) dapat diprediksi dari cara dia menanggapi dan menghadapi suatu persoalan, baik persoalan remeh-temeh maupun persoalan serius.

berdasarkan pengalaman yang saya dapat selama bersahabat dengan bermacam teman (yang tentunya memiliki latar belakang berbeda pula), saya dapat menyimpulkan beberapa karakter yang menurut saya dapat menunjukkan tingkat kedewasaan orang tersebut:

1. orang yang cenderung menganggap remeh masalah

2.orang yang selalu mengeluh dan menganggap dirinya paling sial

3.orang yang terlalu banyak berpikir dan menimbang baik-buruknya suatu solusi sehingga malah sering menunda-nunda dalam menyelesaikan masalah

4.orang yang terlalu mementingkan pendapat-pendapat orang lain. terlalu sering minta saran hingga akhirnya bingung sendiri.

5.orang yang selalu mengingat-ingat kesalahan orang lain dan kadang cenderung menyalahkan mereka

6.orang yang sulit meminta maaf maupun memaafkan

7.orang yang tidak pernah merasa berbuat salah

sejauh ini, hanya terdapat tujuh karakter yang dapat saya kemukakan. walaupun jarak usia teman-teman saya tidak terlampau jauh, saya sangat percaya bahwa jarak usia yang hanya terpaut satu tahun dapat menunjukkan perbedaan tingkat kedewasaan yang menonjol.

tulisan ini memang hanya pendapat pribadi saya. sepanjang saya berteman, hanya ada dua atau tiga orang yang menurut saya dapat menahan emosi dan mengelola emosi mereka dengan baik.

kalau saja semua pejabat dan pendukung klub sepakbola di Indonesia seperti dua atau tiga orang teman saya ini, tentu Indonesia bakal lebih adem.

http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/14/usia-dan-tingkat-kedewasaan/

 

 

Perkembangan masa remaja

Masalah remaja adalah masa datangnya pubertas (sebelas sampai empat belas tahun) sampai usia sekitar delapan belas-masa tranisisi dari kanak-kanak ke dewasa. Masa ini hampir selalu merupakan masa-masa sulit bagi remaja maupun orang tuanya. Ada sejumlah alasan untuk ini:

  1. Remaja mulai menyampaikan kebebasanya dan haknya untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tidak terhindarkan, ini bisa menciptakan ketegangan dan perselisihan, dan bisa menjauhkan ia dari keluarganya.
  2. Ia lebih mudah dipengaruhi teman-temannya dari pada ketika masih lebih muda. Ini berarti pengaruh orang tua pun melemah. Anak remaja berperilaku dan mempunyai kesenangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan perilaku dan kesenangan keluarga. Contoh-contoh yang umum adalah mode pakaian, potongan rambut atau musik, yang semuanya harus mutakhir.
  3. Remaja mengalami perubahan fisik yang luar biasa, baik pertumbuhannya maupun seksualitasnya. Perasaan seksual yang mulai muncul bisa menakutkan, membingungkan dan menjadi sumber perasaan salah dan frustasi.
  4. Remaja sering menjadi terlalu percaya diri dan ini bersama-sama dengan emosinya yang biasanya meningkat, mengakibatkan ia sukar menerima nasihat orang tua.

Ada sejumlah kesulitan yang sering dialami kaum remaja yang betapapun menjemukan bagi mereka dan orang tua mereka, merupakan bagian yang normal dari perkembangan ini.

Beberapa kesulitan atau bahaya yang mungkin dialami kaum remaja, antara lain :

  1. Variasi kondisi kejiwaan, suatu saat mungkin ia terlihat pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri tetapi pada saat yang lain ia terlihat sebaliknya-periang berseri-seri dan yakin. Perilaku yang sukar ditebak dan berubah-ubah ini bukanlah abnormal. Itu hanya perlu diprihatinkan bila ia terjerumus dalam kesulitan, kesulitan di sekolah atau kesulitan dengan teman-temannya.
  2. Rasa ingin tahu seksual dan coba-coba, hal ini normal dan sehat. Rasa ingin tahu seksual dan bangkitnya birahi adalah normal dan sehat. Ingat, bahwa perilaku tertarik pada seks sendiri juga merupakan ciri yang normal pada perkembangan masa remaja. Rasa ingin tahu seksual dan birahi jelas menimbulkan bentuk-bentuk perilaku seksual.
  3. Membolos
  4. Perilaku anti sosial, seperti suka mengganggu, berbohong, kejam dan agresif. Sebabnya mungkin bermacam-macam dan banyak tergantung pada budayanya. Akan tetapi, penyebab yang mendasar adalah pengaruh buruk teman, dan kedisiplinan yang salah dari orang tua terutama bila terlalu keras atau terlalu lunak-dan sering tidak ada sama sekali
  5. Penyalahgunaan obat bius
  6. Psikosis, bentuk psikosis yang paling dikenal orang adalah skizofrenia.

Apa yang harus anda lakukan bila anda merasa cemas terhadap anak remaja anda

Langkah pertama adalah bertanya kepada diri sendiri apakah perilaku yang mencemaskan itu adalah perilaku yang normal pada anak remaja. Misalnya adalah pemurung, suka melawan, lebih senang sendiri atau bersama teman-temannya dari pada bersama anda. Anak remaja anda ingin menunjukan bahwa ia berbeda dengan anda. Hal ini dilakukan dengan berpakaian menurut mode mutakhir, begitu pula dengan kesenanganya pada potongan rambut dan musik. Semua itu sangat normal, asal perilaku tersebut tidak membahayakan, anda tidak perlu prihatin.

Tindakan selanjutnya adalah menetapkan batas dan mempertahankannya. Menetapkan batas itu sangatlah penting, tetapi batas-batas itu haruslah cukup lebar untuk memungkinkan eksplorasi yang sehat.

  • Bila perilaku anak anda membahayakan atau melampaui batas-batas yang anda harapkan, langkah berikutnya adalah memahami apa yang tidak beres.
  • Depresi dan perilaku yang membahayakan diri selalu merupakan respon terhadap stres yang tidak dapat diatasinya.
  • Anak remaja yang berperilaku atau suka membolos seringkali akibat meniru dan mengikuti teman-temannya, dan merupakan respon dari sikap orang tua yang terlalu ketat atau terlalu longgar.
  • Minum-minuman alkohol dan menghisap ganja biasanya merupakan respon terhadap stres dan akibat meniru teman. Masalah seksual paling sering mencerminkan adanya kesulitan diri didalam proses pendewasaan.

Secara umum masalah yang terjadi pada remaja dapat diatasi dengan baik jika orang tuanya termasuk orang tua yang “cukup baik”. Donald winnicott, seorang psikoanalisis dari Inggris memperkenalkan istilah “good enough mothering” ia menggunakan istilah ini untuk mengacu pada kemampuan seorang ibu untuk mengenali dan memberi respon terhadap kebutuhan anaknya, tanpa harus menjadi ibu yang sempurna. Sekarang laki-laki pun telah “diikutsertakan”, sehingga cukup beralasan untuk membicarakan tentang “menjadi orang tua yang cukup baik”

Tugas-tugas yang dilakukan oleh orang tua yang cukup baik, secara garis besar adalah:

  1. memenuhi kebutuhan fisik yang paling pokok; sandang, pangan dan kesehatan
  2. memberikan ikatan dan hubungan emosional, hubungan yang erat ini merupakan bagian penting dari perkembangan fisik dan emosional yang sehat dari seorang anak.
  3. Memberikan sutu landasan yang kokoh, ini berarti memberikan suasana rumah dan kehidupan keluarga yang stabil.
  4. Membimbing dan mengendalikan perilaku.
  5. Memberikan berbagai pengalaman hidup yang normal, hal ini diperlukan untuk membantu anak anda matang dan akhirnya mampu menjadi seorang dewasa yang mandiri. Sebagian besar orang tua tanpa sadar telah memberikan pengalaman-pengalaman itu secara alami.
  6. Mengajarkan cara berkomunikasi, orang tua yang baik mengajarkan anak untuk mampu menuangkan pikiran kedalam kata-kata dan memberi nama pada setiap gagasan, mengutarakan gagasan-gagasan yang rumit dan berbicara tentang hal-hal yang terkadang sulit untuk dibicarakan seperti ketakutan dan amarah.
  7. Membantu anak anda menjadi bagian dari keluarga.
  8. Memberi teladan.

http://www.ipin4u.esmartstudent.com/psiko.htm

 

Sadar atau tidak kebanyakan kita, merasa sebagai individu yang dewasa, yang kadang pola pikirnya tidak lebih dari seorang anak kecil. Kebanyakan dari kita beranggapan bahwa kita adalah orang dewasa dan bukan remaja lagi. Tapi lihatlah dalam kenyatannya kaum remaja dunia yang sudah jauh melangkah didepan untuk melakukan perubahan besar dalam hidup mereka. Remaja dunia ini telah mulai berpikir akan masalah global, masalah bersama yang tidak hanya menjadi masalah orang-oarang dewasa lagi. Kedewasaan berpikir remaja itulah yang harus kita contoh dan mulai terapkan

Remaja merupakan individu yang mengalami transisi antara masa anak dan masa dewasa,yang memiliki perubahan emosi, fungsi seksual, dll . Dan cirri utamanya adalah tidak realistic dan selalu berpikir utopis. Menurut para remaja, masa remaja adalah masa yang rentan terhadap berbagai masalah. Remaja yang cenderung memiliki rasa ingin tahu sangat besar, membuat mereka rentan terhadap segala perubahan dan pengaruh buruk dari lingkungan sekitar. Teman sebaya yang sangat dominant terhadap perilaku dan gaya hidup, hasrat seksual yang mulai tumbuh dan seringkali tidak terkendali.

Salah satu permasalahan yang sering dihadapi remaja kebanyakan adalah masalah seputar pendidikan seks. Seksualitas dianggap merupakan ranah private khusus orang dewasa dan remaja tidak berhak tahu. Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar mereka tidak keliru dalam mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak bertanggung jawab . Sehingga masalah free seks bisa ditekan semaksimal mungkin.Disadari atau tidak remaja memiliki keingintahuan yang besar. Hal ini merupakan akibat dari proses pubertas mereka. Keinginan untuk diakui, berkreasi, dan bereksistensi. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting .
Kemandirian dan perubahan menuju kedewasaan adalah suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari pada aspek fisik. Sedangkan menjadi dewasa hanya bisa diukur melalui banyaknya pengalam hidup yang pernah di alami. Selama masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika tidak direspon secara tepat dapat menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologis sang remaja di masa yang akan datang.

sumber kutipan

http://kriwuliciuz.multiply.com/journal/item/2/saatnya_remaja_berpikir_dewasa