Artikel kali ini akan membahas mengenai Rasa Kepedulian Sosial, apa sih rasa kepedulian sosial itu ? apa dampaknya bagi kita dan lingkungan kita? bagaimana menambah rasa cinta dan kepedulian dalam diri kita?

Petama – tama dapat dijelaskan arti dari peduli.
Peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita.
Orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya. Ketika ia melihat suatu keadaan tertentu, ketika ia menyaksikan kondisi masyarakat maka dirinya akan tergerak melakukan sesuatu. Apa yang dilakukan ini diharapkan dapat memperbaiki atau membantu kondisi di sekitarnya.
Sikap peduli adalah sikap keterpanggilan untuk membantu mereka yang lemah, miskin, membantu mengatasi penderitaan, dan kesulitan yang dihadapi orang lain.
Orang-orang peduli adalah orang-orang yang tidak bisa tinggal diam menyaksikan penderitaan orang lain.
Sikap peduli adalah sikap untuk pro aktif dalam mengatasi masalah-masalah di masyarakat dengan menggunakan dan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat.
Sikap peduli adalah sikap kesediaan untuk memberi solusi terhadap persoalan masyarakat. Agar masyarakat dapat mau berdonasi, agar masyarakat mau menyumbang, agar masyarakat memilih kerelawanan sehingga mau membantu kesulitan saudara-saudara kita.
Peduli Adalah sikap untuk memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, selalu tergerak membantu kesulitan manusia lainnya. Sikap peduli adalah sikap untuk berusaha membangkitkan kemandirian yang ada di masyarakat.
Orang-orang yang peduli adalah orang-orang yang tidak bisa tinggal diam, melihat kelemahan, sikap berpangku tangan dan membiarkan keadaan-keadaan yang buruk terus terjadi di masyarakat.
Sikap peduli adalah suatu sikap untuk senantiasa ikut merasakan penderitaan orang lain, ikut merasakan ketika penderitaan sebagian masyarakat lain sedang sakit, ikut merasa bersedih ketika sebagian saudara-saudara kita di timpa musibah bencana, kesulitan atau ditimpa keadaan-keadaan yang memberatkan dan membangkitkan rasa kasihan dan iba.
Sebagai organisasi yang dilahirkan dari rahim penderitaan masyarakat, terutama masyarakat yang hidup dalam kondisi kekurangan dan selalu menderita, maka kewajiban organisasi yang paling utama adalah senantiasa menempatkan diri dalam posisi membela kepentingan mereka, memperjuangkan hak-hak mereka, menjadi pendamping dan teman bagi kehidupannya serta mengadvokasi dan menolong masyarakat kecil dan tertindas (mustad’afin) itu.
Karena kondisi seperti itulah, maka organisasi akan terdorong untuk mengemas berbagai program sebagai bagian dari pertolongan dan pembelaan terhadap nasib orang-orang yang tertindas. Upaya lain yang dilakukan adalah dengan senantiasa menyuarakan dan mengadvokasi kesulitan dan ketertindasan masyarakat yang hidup kekurangan itu.
Sebagai organisasi yang berperan membantu masyarakat yang tidak mampu, maka menolong masyarakat yang paling membutuhkan adalah hal yang menjadi prioritas. Manakala terdapat sejumlah orang yang memerlukan bantuan, akan tetapi ketersediaan sumber daya terbatas sehingga tidak mungkin membantu keseluruhan orang yang memerlukan bantuan, maka organisasi akan memprioritaskan yang paling membutuhkan.
Terlebih pada saat terjadi bencana, maka mengutamakan yang paling menderita adalah menjadi prioritas utama. Dalam konteks tingkat kualitas yang sama di antara sejumlah orang yang memerlukan bantuan, tetap saja terdapat perbedaan kesulitan kehidupan, kemiskinan atau tingkat penderitaan, maka organisasi akan mengutamakan yang paling membutuhkan (yang paling menderita).
Orang-orang sudah mulai untuk TIDAK! memperhatikan sekitarnya.
Apakah kita sekarang sudah sangat-sangat INDIVIDUALISTIS ?

“pentingnya rasa kepedulian terhadap masalah orang lain”

“Perangkap Tikus”
Sepasang suami dan istri petani pulang kerumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikur memperhatikan dengan seksama sambil menggumam “hmmm…makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar??”
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah Perangkap Tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak ” Ada Perangkap Tikus di rumah….di rumah sekarang ada perangkap tikus….”
Ia mendatangi ayam dan berteriak ” ada perangkat tikus” Sang Ayam berkata ” Tuan Tikus…, Aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku”
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak. Sang Kambing pun berkata ” Aku turut ber simpati…tapi tidak ada yang bisa aku lakukan”
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama. ” Maafkan aku. Tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali” Ia lalu lari ke hutan dan bertemu ular. Sang ular berkata, ” Ahhh…Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku”

Akhirnya Sang Tikus kembali kerumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri.
Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.
Sang suami harus membawa istrinya kerumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam.Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya. (kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam) Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya.

Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia. Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat.
Dari kejauhan, Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi..

-tamat-

Setelah saya merenungi cerita perangkap tikus tersebut, bisa disimpulkan bahwa kita sebagai manusia harus memiliki sikap kepedulian yang tinggi. Mengapa demikian, karena apapun yang akan terjadi di sekeliling kita, pasti nantinya akan berhubungan dan berkaitan dengan diri kita juga. Kita juga tidak boleh menyepelehkan atau menganggap masalah orang lain itu adalah masalah yang gampang diselesaikan.

Seperti halnya dalam cerita tersebut, seekor tikus sedang kebingungan dengan adanya perangkap tikus dirumah pak tani dan bu tani, ia memberitahukan kepada ayam, kambing, sapi dan ular, tetapi sikap mereka yang acuh dan tidak mempedulikan nasib si tikus. Tetapi pada akhirnya mereka juga kena akibatnya dari sifat mereka yang acuh dan tidak mempedulikan nasib si tikus.

Begitu juga dalam kehidupan kita, apa bila ada orang yang membutuhkan bantuan kita, segeralah kita membantu nya, sesuai dengan kemampuan kita. Kita harus memiliki sikap peduli terhadap orang lain yang membutuhkan bantuan kita. Janganlah menjadi orang yang lebih mementingkan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Kita juga harus memiliki sifat saling tolong menolong antar sesama manusia, karena didunia ini kita tidak hidup sendiri, tetapi kita hidup bersaudara. Maka, mari kita bersama-sama meningkatkan rasa peduli dan rasa saling tolong menolong antar sesama ……………

Pudarnya Rasa Kepedulian

Di tengah fenomena kehidupan saat ini, dimana hedonisme telah melanda dunia, rasa kepedulian terhadap sesama menjadi barang langka. Hedonisme telah mengubah paradigma dan membuat masyarakat  mempunyai kecenderungan bersifat egoistik.  Akibatnya, orang tidak menghiraukan lagi apakah perbuatannya merugikan orang lain atau tidak. Yang penting adalah tujuannya bisa tercapai.

Begitu banyak contoh nyata yang bisa kita temukan sehari-hari. Mulai dari kasus formalin beberapa waktu yang lalu, kemudian beredarnya daging oplosan, daging glonggong, dan belakangan pihak BPOM menemukan beberapa jenis makanan, minuman, dan jamu yang mengandung bahan kimia yang berbahaya. Budaya korupsi, suap,  penggusuran secara paksa, dan masih banyak lagi contoh kasus yang lain.

Mengapa kasus-kasus itu bisa terjadi?
Mengapa orang mau melakukan perbuatan yang merugikan orang lain?
Ada banyak sebab, bisa karena belum adanya aturan yang tegas, atau hukum yang belum sepenuhnya ditegakkan, lemahnya pengawasan, ketidaktahuan mungkin, dan sebagainya. Namun, selain itu ada satu sebab yang banyak dilupakan orang, yaitu memudarnya rasa kepedulian terhadap orang lain. Jika orang memiliki rasa kepedulian terhadap orang lain, saya yakin orang tidak akan tega melakukan perbuatan curang. Koruptor tidak peduli apakah perbuatannya merugikan negara. Pedagang-pedagang yang curang tidak peduli apa yang mereka lakukan sangat membahayakan para pembeli. Satpol PP tidak peduli, orang yang digusur menangis-nangis bahkan sampai pingsan. Mereka tidak peduli, yang mereka pikirkan adalah keuntungan bagi dirinya sendiri.

Nabi yang mulia pernah bersabda: “Sembilan persepuluh dari rizki (manusia) terletak dalam perdagangan. Dan Saudagar yang jujur setaraf kedudukannya dengan para syuhada dan orang-orang shaleh dalam sorga”. Jadi, pedagang yang beliau contohkan adalah pedagang yang jujur, bukan sebaliknya.Beliau sendiri adalah seorang pedagang yang sangat jujur dan sangat dipercaya, sampai beliau mendapat gelar Al-Amin. Nabi juga seorang yang tegas dan berwibawa, tetapi tidak ada sejarah yang mengisahkan beliau dan pengikutnya melakukan tindakan kekerasan dan pemaksaan, apalagi terhadap rakyat yang tidak berdaya. Beliau adalah orang yang sangat peduli terhadap orang lain, bahkan terhadap seluruh umatnya. Dikisahkan ketika beliau menghadapi sakaratul maut beliau berdo’a; “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”. Ketika Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi, bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”. Subhanallah!

Jika kita mengaku sebagai pengikut Rasulullah, tentu kita harus mengikuti apa yang beliau ajarkan, salah satunya adalah, Peduli terhadap orang lain. Sebagai makhluk sosial, pada dasarnya setiap manusia telah memiliki rasa kepedulian, rasa kasih sayang terhadap orang lain bahkan semenjak lahir. Namun, seiring perjalanan waktu, rasa kepedulian itu memudar diterpa zaman. Sehingga, yang perlu diupayakan adalah mengembalikan rasa kepedulian yang telah memudar. Caranya,  dengan mengingatkan  atau menyadarkan kembali bahwa kita semua adalah bersaudara. Jika orang lain sakit, kita ikut merasa sakit. Jika sudah demikian insya Allah, tidak ada lagi orang yang berbuat curang. Karena jika dia berbuat curang terhadap orang lain, maka sebenarnya dia sedang berbuat curang terhadap dirinya sendiri.