Tulisan kali ini kita akan membahas mengenai kebudayaan betwai di indonesia. Menurut wikipedia Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.

Sebagian besar Orang Betawi menganut agama Islam, tetapi yang menganut agama Kristen; Protestan dan Katolik juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kalapa sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah Kampung Tugu, Jakarta Utara.

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.

Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal abad ke-20, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis Sunda dan menyebutnya sebagai etnis Betawi (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam bahasa Sunda seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno Bujangga Manik[1] yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.

Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah Bahasa Indonesia, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek Betawi.

Makanan khas betawi biasanya :

©KETUPAT LEBARAN

Hidangan yang wajib ada saat lebaran adalah ketupat, baik lebaran puasa (Iedul Fitri) maupun lebaran haji (Iedul Adha). Tidak ada lebaran kalau tidak ada ketupat, itu lah pengistilahan untuk ketupat saat lebaran. Mungkin bukan tradisi di Betawi saja, di daerah lain di Indonesia juga hidangan ketupat lebaran menjadi tradisi turun menurun, bahkan di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei.Makanan yang berbahan dasar beras yang dibungkus dengan daun kelapa ini sangat diidentikkan dengan lebaran. Biasanya disajikan dengan sayur labuh, opor ayam, atau semur daging. Tradisi hidangan ketupat lebaran yang turun menurun ini selalu disuguhkan ketika lebaran tiba.

©DODOL BETAWI

Bagi masyarakat Betawi, proses pembuatan dodol tersirat makna sosial di dalamnya. Proses pembuatannya yang sulit dibutuhkan semangat bergotong royong dan semangat kebersamaan. Dari sini lah dibutuhkan kerja sama dan secara tidak langsung tali silaturahmi antar keluarga makin erat terjalin.

Tapi kini, sudah tidak ada keriangan membuat dodol betawi yang khas itu, bukan hanya saya yang berasal dari masyarakat Betawi di Bekasi, ketika mengunjungi keluarga yang berasal dari masyarakat Betawi lain seperti di Jakarta, punya cerita yang sama. Mungkin adanya kesibukan masing-masing keluarga, atau adanya pergeseran kebiasaan yang tidak bisa dipertahankan dari tahun ke tahun semakin menghilang karena satu atau lain sebab.

©AKAR KELAPA

Makanan yang menyerupai bentuk akar yang berbahan tepung beras putih, kelapa, tepung sagu dan bahan-bahan lainnya dulunya sering sekali dibuat saat lebaran. Dari tahun ke tahun sewaktu kecil, beberapa hari sebelum lebaran sudah sibuk membuat makanan ini. Tanpa disadari, kini kebiasaan membuat akar kepala pun hilang.

©TAPE ULI

Makanan ini juga hidangan yang selalu ada saat lebaran, baik di keluarga besar saya maupun keluarga betawi lain di satu kampung masih menghidangkan makanan ini saat lebaran. Makan ini terdiri dari dua makanan, yaitu tape beras ketan merah dan uli sendiri merupakan campuran beras ketan putih dan kelapa yang dikukus.

Uli yang dicocol (dicampur) tape saat memakannya, membuat makanan ini sangat nikmat, menjadikan makanan ini salah satu makanan favorit masyarakat Betawi. (sumber : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/10/17274/ )

Kesimpulan : Budaya Betawi menghuni sebagian besar Jakartabahasanya juga terpengaruh antara betawi dan dialek melayu. Banyak daerah di Jakarta yang berasal dari bahasa betawi