Satu lagi berita mengenai pak Menpora kita yang mulai diragukan kemampuan dan niatnya untuk turut menyelesaikan kekisruhan yang melanda Sepakbola Indonesia. Diman Bang Kumis RS merasa “dijebak” masuk dalam pusaran kekisruhan……padahal seperti kita ketahui semua yang dilakukan PSSI sudah sesuai dengan prosedur bagaimana seharusnya tindakan tegas yang harus diambil PSSI dalam menyikapi sikap para pemain sepakbola di Indonesia yang menolak dipanggil Timnas dengan ber bagai alasan begitu juga dengan sikap Klub yang menolak registrasi ulang sesuai prosedur seharusnya sebelum memulai kompetisi.

Memang bagi sebagian pengamat.pemilik klub berpendapat untuk apa harus registrasi ulang toh mereka sudah tidak mengakui keberadaan PSSI dan mereka malah memilih KPSI sebagai induk cabang olah raga sepakbola di Indonesia….???? Jelas-jelas ini merupakan suatu sikap yang aneh……??? Kenapa saya bilang aneh……saya jadi ingat dan ada benarnya kalimat dulu yang pernah dikemukakan Nurdin Halid sebelum runtuh dari kerajaannya.” Selagi permainan  sepakbola dilakukan dengan jumlah 11 pemain lawan 11 pemain itu berada dibawah yuridiksi FIFA dan kaitanya dengan PSSI,  semua regulasi dalam persepakbolaan dikeluarkan oleh badan otoritas sepakbola dunia itu, dan PSSI sebagai Federasi wakil resmi yang diakui keberadaannya oleh FIFA bertanggung jawab mengenai perkembangan persepakbolaan di masing-masing Negara yang terdaftar sebagai anggota FIFA.

Kembali ke komentar Menpora sang akhli telematika hari ini yang mengatakan merasa dipancing dan dijebak supaya masuk ke ranah kekisruhan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI). “Saya sadar sanksi dari PSSI untuk Liga Super itu adalah pancingan dan jebakan bagi saya untuk masuk ke konflik,” kata Roy kepadaTempo mengenai sikapnya atas sanksi PSSI bagi klub dan pemain “yangMembangkang” Kamis 24 Januari 2013.

Sebenarnya sudah sangat jelas,  sebelum dianggkat sebagai menteri pun kalau Menpora mengikuti perkembangan kisruh sepak bola di Indonesia semuanya jelas dan terang benderang kenapa kisruh ini berkepanjangan dan tak kunjung selesai dan sudah ribuan kali hal ini diungkap media masa termasuk di Kompasianan ini.

Bagaimana bisa seorang menteri merasa dipancing dan dijebak untuk masuk kedalam kisruh ini…..???? bukankah kementerian Olahraga bertanggung jawab terhadap segala kegiatan yang berkaitan dengan Olah raga di republik ini, sementara ada salah satu Induk cabang Olah raga bermasalah, sudah berlarut-larut bukannya menjadi kewajiban bagi kementrianya untuk membantu penyelesaian sehingga tidak menggangu perkembangan/kemajuan dari cabang olah raga tersebut dalam hal ini Sepakbola. Jadi kalau menurut saya saat ini suka atau tidak suka boleh juga dikatakan mau tidak mau Kemenpora harus terlibat untuk menjaga kesinambungan program pengmbangan olah raga di Indonesia dalam hal ini khusdusnya sepakbola….bukannya malah merasa dipancing atau jebakan untuk masuk dala kekisruhan ini.

Mengenai kebijakan yang dikeluarkan PSSI bagi pemain dan Klub sudah terlalu banyak dibahas oleh berbagai pihak dan media….jadi ga ada alasan untuk menjadikan sikap PSSI itu sesuatu yang salah dilakukan PSSI…….justru kita berharap PSSI harus bersikap tegas dalam kisruh ini….selagi PSSI masih menjadi pemegan Otoritas Resmi Persepakbolan di Indonesia yang di akui FIFA…jadi merupakan kewajiban bagi PSSI menata semuanya sesuai aturan yang berlaku.

Dan anehnya lagi Menpora juga mengungkapkan keputusan mengenai sangsi buat pemain dan klub itu akan lebih membuat antipati LSI terhadap PSSI……???? Seperti yang diungkapkannya “ meski itu tujuan baik, yaitu ingin membentuk satu Timnas, disatu sisi sanksi akan membuat masalah semakin rumit ”, hal yang menyangkut keputusan sanksi ini terkait waktu dimana persiapan Timnas yang sudah berjalan menjadi sedikit terganggu dengan persoalan yang sama seperti sebelum-sebelumnya yaitu menolak untuk Membela Timnas Negara Republik Indonesia ini…..kok malah terkesan Menpora membiarkan hal ini terjjadi …..bukannya mengambil sikap dan keputusan…..?????

Sumber : http://olahraga.kompasiana.com