Erick Thohir (lahir di Jakarta, Indonesia, 30 Mei 1970; umur 42 tahun) adalah seorang pengusaha asal Indonesia dan merupakan salah satu pendiri Mahaka Media. Ayahnya adalah Teddy Thohir, co-pemilik dari grup otomotif Astra International dengan William Soeryadjaya, Saudaranya, Boy Thohir, adalah seorang bankir investasi, ia juga memiliki saudara perempuan, Rika. Thohir yang turut  membantu Thohir dalam mengurusi bisnis keluarga.

Thohir menerima gelar master pada tahun 1993 di Amerika Serikat. Setelah kembali ke Indonesia bersama dengan Muhammad Lutfi, Wisnu Wardhana dan R. Harry Zulnardy ia membentuk Grup Mahaka

Erick lahir dari keluarga yang berapresiasi tinggi akan media islami. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama Harian Republika dan perusahaannya sendiri, Mahaka Media. Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Presiden Direktur VIVA, Beyond Media perusahaan  Anindya Bakrie pemilik Stasiun televisi tvOne and antv  Selain fokus di dunia media, Erick juga berfokus pada olahraga yang digemarinya, yaitu bola basket. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum PERBASI periode 2006-2010 dan menjabat sebagai Presiden SEABA selama dua kali, yaitu periode 2006-2010 dan 2010-2014.

Urusan bisnis ia berani menghadapi risiko besar. Namun, mengenai investasi pribadi tunggu dulu. Itulah profil risiko Erick Thohir. Di satu sisi sebagai pengusaha muda ia cukup berani menggeluti bisnis media dengan agresif,  padahal banyak perusahaan media lain yang gulung tikar. Di lain pihak, ia sangat konservatif dalam membiakkan investasi personalnya..

Sekalipun konservatif dalam mengelola investasi pribadinya, Erick cukup kreatif dengan menyebar ke beberapa ladang investasi yang dianggapnya aman. Setidak-tidaknya ia telah menjalankan resep pengembangan kolom aset dari Robert T. Kiyosaki.   Bunyinya, ?Sekali uang masuk ke dalam kolom aset Anda, maka uang itu akan menjadi pekerja yang bekerja untuk Anda. Uang itu akan bekerja 24 jam sehari dari generasi ke generasi. Kerjakan tugas atau profesi Anda dengan baik, tapi jangan lupa kembangkan terus kolom aset Anda.?

Bagaimana peta kolom aset pribadi Erick?  Dari tahun ke tahun CEO Grup Abdi Bangsa itu terus mengembangkannya. Mula-mula lelaki kelahiran Jakarta, 30 Mei 1970 itu hanya mengenal simpanan di bank. Namun, setelah menempuh pendidikan master di Universitas National, Kalifornia, ia mulai coba-coba instrumen yang agak riskan, yakni saham dan reksa dana. Berikutnya, menjajaki investasi lukisan dan sektor riil, terutama bisnis restoran.

Lebih ringkasnya, Erick merangkum portofolio individunya dalam empat kategori. Pertama, 40% di sektor riil. Kedua, 25% di reksa dana dan saham. Ketiga, lukisan dengan porsi 25%. Keempat, 10% ditempatkan di bank dalam bentuk tabungan atau deposito.

Bukan secara kebetulan bila Erick memilih usaha restoran sebagai wahana pengembangan investasi sektor riil. Baginya, bisnis resto banyak tantangannya, baik manajemen maupun inovasi produk. Pertimbangannya, karena dalam kondisi apa pun orang butuh makan, termasuk pada saat krismon. ?Apalagi di sektor riil ini kami juga menyerap banyak tenaga kerja,? ungkap bos dari 1.325 karyawan itu.

Tidak sembarang jenis resto dimasuki Erick. Ia memilih mengembangkan resto dengan konsep restoran keluarga, menu yang disajikan unik dan membidik segmen pasar  kelas B (menengah). Sampai saat ini, ada tiga resto yang masuk genggamannya. Diawali tahun 1987 dengan melanjutkan pengelolaan resto Hanamasa milik keluarganya. Waktu itu Hanamasa hanya memiliki tiga gerai, tapi di tangan Erick mampu berbiak menjadi 18 gerai tersebar di  Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Bogor.

Setelah masakan Jepang, Erick merambah  resto Italia lewat Pronto Restaurant. Lantaran masih anyar, resto dengan konsep makan sepuasnya ini baru ada satu gerai di Pondok Indah. Tidak puas hanya dua resto, selanjutnya ia mengembangkan kafe khusus teh dengan nama Taste Tea di Kelapa Gading.

Sektor keuangan juga dilirik Erick sebagai sarana menggelembungkan pundi-pundinya. Di sini ia menaruh 25% duitnya dalam bentuk saham dan reksa dana. Ia sengaja menggabungkan alokasi saham dan reksa dana, karena ada persamaan sejarah saat mengawali investasi di instrumen ini. Ia bercerita, tiga tahun lalu ditawari produk investasi oleh temannya yang bekerja di Merrill Lynch, Amerika Serikat. Jenis instrumennya reksa dana dalam konversi beberapa valuta asing dan saham yang listed di New York Stock Exchange.Waktu itu kebanyakan valas yang dipilih Erick adalah euro karena mengikuti tren.  Namun, untuk investasi di reksa dana kini ia sudah melakukan perubahan dengan membeli beberapa produk dari fund manager lokal dan asing yang ada di Indonesia.

Rupanya tidak hanya reksa dana lokal yang dipilih Erick. Saham yang ditransaksikan di Bursa Efek Jakarta pun tak dia lewatkan. Strateginya bermain saham: melihat fundamental emiten, visi perusahaan dan konsistensi dari corporate action. Dikatakan Erick, dari penilaian itu akan kelihatan kinerja perusahaan dan pada gilirannya harga saham akan bagus. Tentu saja saham-saham blue chips yang memenuhi kriteria itu.

Hobi menikmati lukisan juga ia manfaatkan sebagai investasi. Selain mengoleksi sejumlah lukisan yang ia sukai, sebagian lukisan miliknya yang lain dijual untuk mendapatkan keuntungan. Ia mengaku jatuh hati pada lukisan sejak tujuh tahun lalu. Erick cuma beli lukisan karya pelukis yang sudah punya nama agar aman. Ia tidak ingin ikut-ikutan membeli lukisan dari pelukis muda yang terus dibina untuk mendapatkan keuntungan tinggi. Adapun karya lukis yang dibeli umumnya dari hasil goresan Basuki Abdullah, Affandi, Dullah, Li Mang Fung, Sri Hadi dan Trubus. ?Memang untuk pelukis terkenal harga lonjakannya tidak sebesar pelukis muda, tapi aman. Sebaliknya, karya pelukis muda cukup spekulatif untuk dijadikan ajang investasi,? papar suami Elizabeth T.  ini.

Berapa lama lukisan ditahan? ?Tergantung,? katanya. Kalau sekarang ada 40 lukisan yang disimpan, boleh dikata yang benar-benar digandrungi 25%. Ini yang tidak dijual kembali. Sementara itu, sisanya yang 75% akan dilepas lagi dalam tempo 1-2 tahun ke depan. Untuk menjual kembali tidak sukar, lantaran telah terbentuk komunitasnya. ?Dibanding hobi lain, seperti jam tangan mewah, perhiasan atau mobil, lukisan lebih oke,? kata ayah empat anak ini.

Berdasarkan pengalaman Erick investasi lukisan membukukan return menarik. Ia mencontohkan lukisan Affandi dibeli pada 1999 seharga Rp 135 juta, di tahun 2004 sudah ditawar Rp 500 juta. Mengapa mahal? ?Ini ditentukan oleh komunitas lukisan sendiri,? ujarnya sembari membandingkan karya Basuki Abdullah saat ini masih stagnan. Ada pula lukisan yang dulu dibeli seharga Rp 25 juta, sekarang menjadi Rp 40 juta.  ?Selama ini kalau ingin cepat jual kembali lukisan untungnya Rp 20-30 juta dalam tempo setahun, sedangkan harga belinya Rp 80?200 juta,? ia menjelaskan. Di atas harga Rp 200 juta, potensi keuntungan lebih besar, tapi peluangnya jarang terjadi. Kalau dihitung frekuensi jual-beli lukisan Erick tidak banyak, tidak lebih dari dua kali dalam setahun.

Di balik gambaran return gede dari investasi lukisan, tentu ada dukanya, meski Erick tak menyebut itu sebagai kerugian. Lukisan karya Trubus umpamanya. Kala itu ia membeli agak kemahalan dan ada goresan di bagian tangan ? dianggap  kurator tidak perfeksionis. Jadi, harganya saat itu idealnya Rp 140 juta, tapi ia membeli di harga Rp 185 juta. Dan saat ini harga pasarannya ditaksir Rp 250 juta. ?Tapi, karena sudah dipegang lebih dari 6 tahun, jadi return-nya  tidak tinggi lagi,? ungkapnya.

 

Erick sungguh beruntung. Tidak hanya lukisan yang menjanjikan keuntungan besar. Investasi di Hanamasa dan Proton pun telah mencetak laba. Sementara itu, Taste Tea belum mencapai titik impas. Menurutnya, perlu waktu edukasi ke masyarakat sekitar tiga tahun agar aware terhadap resto jenis ini.

Demikian halnya investasi di saham dan reksa dana, telah dipetik return-nya. Walaupun capital gains tidak signifikan, Erick merasa puas. Misalnya beli saham BRI saat IPO Rp 875 dan dijual lagi pada Rp 1.000. ?Kiat saya menekan loss adalah tidak serakah. Harga saham naik Rp 50 pun cukup daripada menunggu Rp 200 tapi lama, bahkan bisa turun harganya,? Erick menguraikan. Sementara itu, yield reksa dana yang dibelinya rata-rata di atas bunga deposito.

Dengan sikapnya yang prudent dan jenis investasi cenderung konvensional, Erick tak banyak menghadapi risiko besar. ?Rugi besar itu paling-paling pas beli saham di AS karena harganya jatuh hingga 40%,? ia mengenang. Dari situ ia menarik pelajaran berharga: harus mampu mengukur diri dan mengikuti perkembangan instrumen investasi itu sendiri.

Sumber : yapono.wordpress.com & swa.co.id

: